Kami berangkat dari sekolah jam 09.00 dan smp di sana jan11.30. Jalan nan berliku, pemandangan yang amat mempesona manjadi daya tarik. Dan yang heibatnya jumpa firdaswita, muridku masa di smk karya mulya Muaro Sijunjung tahun 1988
Saya adalah manusia biasa yang suka traveling;mengunjungi tempat yang bernuansa air terjun bersama siswa/siswi. Berkebun adalah hobby saya yang lain, mendisain taman adalah ketrampilan alamiah
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 November 2015
Touring Ke Lubuak pendakian Sumpur Kudus Kab Sijunjung Sumbar
Touring kali ini adalah ke Lubuak Pendakian yang terletak di Kenagarian sumpur kudus sumatera barat. Touring ini bersama siswa SMKN 1 Sawahlunto Sumbar
Kami berangkat dari sekolah jam 09.00 dan smp di sana jan11.30. Jalan nan berliku, pemandangan yang amat mempesona manjadi daya tarik. Dan yang heibatnya jumpa firdaswita, muridku masa di smk karya mulya Muaro Sijunjung tahun 1988
Dan ini videonya di tempat tsb
Kami berangkat dari sekolah jam 09.00 dan smp di sana jan11.30. Jalan nan berliku, pemandangan yang amat mempesona manjadi daya tarik. Dan yang heibatnya jumpa firdaswita, muridku masa di smk karya mulya Muaro Sijunjung tahun 1988
Label:
air terjun,
Lubuak pendakian,
sumpur kudus,
Touring,
Traveling
Selasa, 28 April 2015
Penampakan kolong jembatan yang diubah jadi kafe keren di Jember,jawa Timur
Tidak
ada yang menyangka, kolong jembatan bisa dirubah menjadi kafe yang
menarik dan unik. Kolong jembatan yang biasanya jadi tempat perlindungan
gelandangan seperti dalam lagu Bang Haji Roma Irama, kini menjadi
tempat nongkrong asyik para muda-mudi di Jember hingga dari kota lain.
Gagasan Johanes Kris Astono memang patut diacungin jempol. Pria yang
aktif di organisasi pecinta alam Fakultas Ekonomi Universitas Jember
ini, memulai bisnis kafenya di bawah jembatan Jalan Mastrip, Jember,
Jawa Timur.
Sebelumnya kolong jembatan itu sering dijadikan tempat pembungan sampah, judi, mabuk, dan lainnya. Aktivitas negatif tersebut mendorong Johanes untuk merubah keadaaan menjadi aktivitas positif. Dibukalah kafenya dengan desain yang sangat elegan, penataan yang artistik, kursi dan meja kafe dari anyaman bambu, dan lampu-lampu bersinar keemasan yang menyoroti tiap sudut ruangan. Suasana semakin riuh manakala musik dimainkan dari band-band lokal, tak sedikit pengunjung kafe turut menyanyi. Wah, sungguh gagasan mahasiswa Program Diploma ini sangat brilian.
Awalnya Johanes Kris menamai kafenya, Kolong Cafe Huis, berbau nama Belanda memang, namun karena dipandang susah dihafalkan, maka ia memutuskan untuk menamai "Kafe Kolong" saja. Niat pertamanya membuka kafe sebenarnya di tepi Sungai Bedadung, tetapi karena risiko dan ongkosnya dirasa mahal, maka diputuskan di kolong jembatan. Dia melobi para pemulung yang menaruh barang-barang di sekitar lokasi dan mengutarakan niatnya membangun usaha di situ, pemulung-pemulung setuju dan bersedia memindahkan barang-barangnya. Lantas, Johanes meminta izin Ketua RT dan RW setempat, mereka mengizinkan asalkan kafe dibuat terang-benderang. Warga pun menyambut baik niat Johanes. Kemudian tepat tanggal 27 April 2013, Johanes menggelar tasyakuran bersama warga setempat sekaligus meresmikan kafenya.
Sebelumnya kolong jembatan itu sering dijadikan tempat pembungan sampah, judi, mabuk, dan lainnya. Aktivitas negatif tersebut mendorong Johanes untuk merubah keadaaan menjadi aktivitas positif. Dibukalah kafenya dengan desain yang sangat elegan, penataan yang artistik, kursi dan meja kafe dari anyaman bambu, dan lampu-lampu bersinar keemasan yang menyoroti tiap sudut ruangan. Suasana semakin riuh manakala musik dimainkan dari band-band lokal, tak sedikit pengunjung kafe turut menyanyi. Wah, sungguh gagasan mahasiswa Program Diploma ini sangat brilian.
Awalnya Johanes Kris menamai kafenya, Kolong Cafe Huis, berbau nama Belanda memang, namun karena dipandang susah dihafalkan, maka ia memutuskan untuk menamai "Kafe Kolong" saja. Niat pertamanya membuka kafe sebenarnya di tepi Sungai Bedadung, tetapi karena risiko dan ongkosnya dirasa mahal, maka diputuskan di kolong jembatan. Dia melobi para pemulung yang menaruh barang-barang di sekitar lokasi dan mengutarakan niatnya membangun usaha di situ, pemulung-pemulung setuju dan bersedia memindahkan barang-barangnya. Lantas, Johanes meminta izin Ketua RT dan RW setempat, mereka mengizinkan asalkan kafe dibuat terang-benderang. Warga pun menyambut baik niat Johanes. Kemudian tepat tanggal 27 April 2013, Johanes menggelar tasyakuran bersama warga setempat sekaligus meresmikan kafenya.
![]() |
| Foto (jembertourism.com) |
Kafe Kolong gagasan Johanes menyediakan menu makanan dan minuman
seperti kafe pada umumnya. Kafe Johanes menawarkan pula aneka racikan
kopi yang akan menambah nikmat pengunjung melewatkan malam di bawah
kolong jembatan. Pengunjung akan dibawa suasana khas, dimana suara
gemercik air sungai akan menyempurnakan suasana natural kafe.
Harga-harga menunya juga masih tergolong ekonomis. Kafe Kolong dibuka
dari jam empat sore hingga jam satu malam setiap harinya. Aturannya juga
ketat, pengunjung tidak boleh membawa minuman beralkohol.
Dari hobi arum jeram, lalu melihat peluang, dan timbul gagasan cerdas, akhirnya Kafe Kolong Johanes Kris yang berkongsi dengan Johanes Riyanto, rekannya di pecinta alam, jadi destinasi favorit nongkrong dan ngopi muda-mudi Jember. Selain itu, Kafe Kolong juga jadi tujuan pengunjung dari kota lain seperti Jogja, Malang, Surabaya dan lainnya. Mereka rata-rata memberikan nilai positif dan sanjungan atas gagasan Johanes. Bagaimana tidak? Johanes telah memberikan inspirasi pada kita semua bahwa sesuatu yang dipandang tidak mempunyai kemanfaatan, cenderung digunakan untuk kemaksiatan, ternyata mampu dirubah menjadi sesuatu yang bermanfaat, berguna, dan bernilai bisnis.
Dari hobi arum jeram, lalu melihat peluang, dan timbul gagasan cerdas, akhirnya Kafe Kolong Johanes Kris yang berkongsi dengan Johanes Riyanto, rekannya di pecinta alam, jadi destinasi favorit nongkrong dan ngopi muda-mudi Jember. Selain itu, Kafe Kolong juga jadi tujuan pengunjung dari kota lain seperti Jogja, Malang, Surabaya dan lainnya. Mereka rata-rata memberikan nilai positif dan sanjungan atas gagasan Johanes. Bagaimana tidak? Johanes telah memberikan inspirasi pada kita semua bahwa sesuatu yang dipandang tidak mempunyai kemanfaatan, cenderung digunakan untuk kemaksiatan, ternyata mampu dirubah menjadi sesuatu yang bermanfaat, berguna, dan bernilai bisnis.
![]() |
| Foto (travel.kompas.com) |
Jadi,
sobat travelers, gagasan betapa pun selalu membuktikan kemampuannya
untuk menciptakan segala hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang
lain. Gagasan Johanes mengajarkan pada kita semua untuk terus
mengembangkan gagasan yang berguna untuk masyarakat. Semoga gagasan
Johanes menginspirasi kita semua untuk berbuat yang positif dan optimis
dalam merintis bisnis.
Sumber:
[1]http://travel.kompas.com/read/2015/03/05/194100727/Ide.Cemerlang.Johanes.Mengubah.Kolong.Jembatan.Jadi.Kafe
[2] http://jembertourism.com/kafe-kolong.html
Minggu, 15 Maret 2015
Perjalanan
Hari ini Minggu 16 Maret 2015, bersama istri, saya ke Padang Ganting yang terletak di Kabupaten Tanah Datar. Kalo dengan sepeda Motor dari sawahlunto butuh waktu 1 jam perjalanan.
Kami menikmati perjalan ini karena udara sangat cerah namun tidak menyengat walau mentari sempurna di jam 10 pagi.
Jam 11 pun kami tiba di tujuan. Namanya pergi ke rumah famili istri maka makan adalah acara yang harus dilakukan. ah saya ingat saat di kampung bunda di payakumbuh juga begini. Makan......makan jika ke rumah sanak famili (y).
Saat perjalan ke sawahlunto ( jam 13.30 ), hari tak cerah, awan putih bertukar tempat dengan awan hitam. Saya naikan gas, takut kehujanan karena membawa beras dan ada jemuran yang kalau tak diangkay maka basah adalah di ujungnya.
Alhamdulillah, hujan turun saat saya telah tiba di rumah kembali.
Kami menikmati perjalan ini karena udara sangat cerah namun tidak menyengat walau mentari sempurna di jam 10 pagi.
Jam 11 pun kami tiba di tujuan. Namanya pergi ke rumah famili istri maka makan adalah acara yang harus dilakukan. ah saya ingat saat di kampung bunda di payakumbuh juga begini. Makan......makan jika ke rumah sanak famili (y).
Saat perjalan ke sawahlunto ( jam 13.30 ), hari tak cerah, awan putih bertukar tempat dengan awan hitam. Saya naikan gas, takut kehujanan karena membawa beras dan ada jemuran yang kalau tak diangkay maka basah adalah di ujungnya.
Alhamdulillah, hujan turun saat saya telah tiba di rumah kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)




